Sabtu, 30 Oktober 2021

RINDU MENGGORES PENA

Sudah lama aku tidak menyentuh Blog yang pernah kubuat bertahun-tahun silam, bahkan sempat hampir lupa bahwa sebetulnya aku punya Blog. Baru hari ini aku sempat mengunjunginya dan merangkai kata lewat goresan pena yang membuat diriku sendiri terkesima. Aku mencoba kembali 'bermesra' dengan tulisan-tulisan lama yang hampir hilang dalam hidupku. 

Banyak ide yang telah kutuangkan dalam rangkai kata, tetapi kurangnya komitmen diri untuk menuliskannya, membuat selalu tertunda dengan alasan kata 'nanti' dan 'tapi'. Ayolah bangkit dari tidur panjang yang membuaikan dengan mimpi-mimpi manis. Menulislah kembali, siapa tahu ada yang berkenan membaca. Menulislah, agar orang-orang di masa yang akan datang mengetahui bahwa aku pernah ada dan hidup di masa lalu.

Semoga akan terbit tulisan-tulisan seperti dulu, semangat dalam bingkai berbagi ilmu pengetahuan. 


Rabu, 22 Januari 2020

BERBAGI


Saat mendengar kata BERBAGI, apa yang terlintas dalam pikiran anda? Terlepas dari kenyataan bahwa berbagi bisa membuat seseorang kehilangan sesuatu, sebagian berpendapat bahwa berbagi dapat menumbuhkan perasaan bahagia dan lega hati. Berbagi tentu tak hanya berupa uang atau materi lainnya. Tersenyum pun termasuk berbagi. Intinya, berbagi itu merupakan suatu kegiatan membantu menghasilkan kebaikan dan kemudahan bagi orang lain.

Stephen Post dalam bukunya Why Good Things Happen to Good People menulis bahwa MEMBERI telah terbukti meningkatkan kualitas kesehatan seseorang dan bisa meringankan penyakit kronis, termasuk HIV dan sejenisnya. Dengan kata lain, BERBAGI menaikkan derajat kemanfaatan seseorang terhadap orang lain dan memberi dampak besar yang positif bagi kehidupannya.

Dengan BERBAGI, seseorang bisa lebih perduli terhadap orang lain, terutama kepada orang-orang yang membutuhkan (orang-orang miskin). Menyisihkan sedikit rezeki yang diberikan Tuhan termasuk salah satu wujud rasa syukur kepada-NYA. Lalu, apa indahnya BERBAGI itu? Saat anda ikhlas BERBAGI, kenikmatanlah yang bakal diperoleh. Ketika anda  bersedekah, pahala yang akan didapat. Saat berbagi ilmu, semakin bertambah ilmu anda, dan ketika berbagi harta, tak perlu cemas karena tak akan berkurang harta anda. Bahkan Allah SWT berjanji akan menambah dan melipatkan gandakan harta anda tersebut.

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya" (Q.S. Saba: 39).

Ayat di atas menerangkan bahwasanya ketika anda memberi apapun itu, uang ataupun materi, tenaga, bahkan tersenyum sekalipun, maka Allah akan menggantinya. Dialah Maha Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.


Senin, 28 Mei 2018

DEMI

‘Demi’ adalah kata yang gampang diucapkan, tapi tidak mudah dipraktekkan secara hakiki. ‘Demi’ seringkali hanya sebagai retorika untuk menarik perhatian massa dan pengindah ungkapan untuk menipu dan menghancurkan. Iblis berhasil menggoda Nabi Adam setelah dia bersumpah atas nama Allah bahwa yang dilakukannya itu adalah semata-mata ‘demi’ Nabi Adam agar kekal di surga. Lalu, Nabi Adam pun luluh oleh bujuk rayu Iblis dan terusir dari surga. Saat menjelang Pemilu, para kandidat juga tidak jarang menggunakan kata ‘demi’ selama kampanye; ‘demi’ rakyat kecil, ‘demi’ kemakmuran rakyat, ‘demi’ kesejahteraan masyarakat luas, ‘demi’ menjunjung tinggi hukum dan nilai-nilai luhur dasar negara dan sebagainya. Namun, begitu terpilih, mereka berganti arah menjadi ‘demi’ kekuasaan dan harta benda bahkan wanita. Naudzubillah.

Jika kita pahami, dalam kata ‘demi’ secara hakiki terkandung konsekuensi-konsekuensi dan esensi sebuah tujuan. Saat diri berucap “demi Allah”, maka konsekuensinya adalah tidak boleh ada ‘demi’ yang lain selain Dia dan kita berupaya sekuat tenaga melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan rasa penuh hina dihadapan-Nya. ‘Demi’ Allah berarti tidak menuhankan siapapun/apapun selain Dia dan tidak pula menuhankan pencitraan diri. Ketika kita berucap “demi anak-anak”, maka anak-anaklah yang lebih utama ketimbang yang lain, dan kita mesti rela berkorban apapun untuk kebaikan dan kemuliaan mereka. ‘Demi keadilan’ berarti menyatukan diri dengan prinsip-prinsip keadilan yang diyakini, bukan malah memanfaatkan terminologi ‘keadilan’ sebagai alat untuk ‘kepuasan’ sendiri.

Minggu, 10 April 2016

Sandi Tingkat Tinggi Huruf Baa

Perjalanan menelusuri waktu pada hakekatnya adalah perjalanan untuk melihat asal usul diri dan kejadian alam semesta, yang akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa riwayat diri, alam semesta dan seisinya ini sudah tertuang di dalam Al-qur'anul Karim. Inti Al-qur'an ada pada surat Al-fatihah, dan inti surat Al-fatihah ada pada Basmalah. Inti Basmalah ada pada huruf Baa, dan inti huruf Baa adalah pada titiknya. Allah menyimpan ilmu dan sandi tingkat tinggi pada titik Baa dalam ungkapan yang berbunyi: 

Bi Kana Ma Kana Bi Yakunu Ma Yakunu (Hanya dengan Aku segala sesuatu yang telah ada itu dapat terwujud. Hanya dengan Aku saja sesuatu yang akan ada dapat terwujud). 

Dengan demikian, wujud diri, alam semesta dan seluruh isinya ini ada karena idzin Allah, dan hakekat dari perwujudan tersebut adalah atas nama Allah. 

Begitu pula, yang diucap pertama-tama oleh manusia adalah huruf Baa. Tatkala Allah berfirman: "Alastu Birabbikum?" (Bukankah Aku ini Tuhanmu?) 
Kemudian manusia menjawabnya dengan: "Bala" (Benar, (Engkau Tuhan kami)). 

Kata 'Bala' tersebut diawali dengan huruf Baa. Seperti seseorang yang menggoreskan pena diatas kertas; apapun yang ditulis dan apapun yang digambar akan mulai dan berakhir pada satu titik. Ini bermakna: Huwal Awwalu, Huwal Akhiru (Dia Yang Maha Awal dan Dia Yang Maha Akhir). Tidak ada sesuatupun yang mengawali-Nya dan keabadian-Nya tidak akan pernah berakhir. Wallaahu 'A'lam.  

   

Selasa, 12 Mei 2015

Seputar 'Death Penalty'

Tentu kita sudah mafhum, ada peristiwa pada Rabu, 29 April 2015 sekitar pukul 00.25 dini hari WIB. Dua gembong narkoba asal Australia dieksekusi di Lapas Nusakambangan Cilacap, Jateng. Peristiwa ini sempat menimbulkan kemarahan (anger) sebagian warga Australia dan kekecewaan dari PM Abbot dan Menlu Julie Bishop. Pernyataan dan ancamanpun dilontarkan, yang puncaknya adalah pemulangan duta besarnya dari Jakarta dan ‘safari’ penggalangan dukungan penghapusan hukuman mati ke sejumlah negara. Sebagian kalangan berpandangan bahwa hukuman mati itu tidak perlu diberlakukan kepada seseorang seberat apapun kejahatannya. Sebab, hukuman mati tidak efektif  menurunkan angka kejahatan di dunia. Atas dasar ‘kesucian’ hidup manusia, hukuman matipun dianggap melanggar hak-hak asasi (hidup) manusia. Pada hakekatnya, manusia yang satu tidak punya hak untuk ‘mengambil’ hidup manusia lainnya. Dari sini, pro dan kontra pun mengemuka, baik di Indonesia maupun Australia. Mereka yang ‘pro’ lazimya menggunakan bendera HAM sebagai dasar penolakan, sementara yang ‘kontra’ melihat dari sisi akibat maksimal dari sebuah kejahatan. Konon, di Bali, para bandar narkoba memanfaatkan anak-anak untuk menjualkan barangnya dengan upah sekedarnya, sementara anak-anak itu tidak mengetahui bahwa yang dipegangnya itu adalah barang yang sangat berbahaya. Meski berita ini mungkin tidak sepenuhnya benar, kenyataannya memang, sudah tak terhitung jumlah generasi muda yang meninggal lantaran penyalahgunaan narkoba ini. Terlepas dari intervensi kepentingan politik ataupun kepentingan-kepentingan personal lainnya, pro dan kontra hukuman mati dimungkinkan terus berlanjut, seiring klaim hak masing-masing individu untuk ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’ dengan hukuman mati. 

Jumat, 21 Februari 2014

Ketika Korupsi Melanda Negeri

Koruptor seringkali dilambangkan dengan 'tikus'. Perilaku tikus adalah suka mencuri, gesit, rakus, kotor, bau dan membawa penyakit. Persis seperti koruptor, tidak tahu malu, rakus dan suka mencuri uang negara. Hilangnya rasa malu para perilaku korupsi dan serangan balik para koruptor (corruptors fight back) untuk melemahkan lembaga penegak hukum seperti KPK, kepolisian dan kejaksaan, adalah tanda-tanda yang tak terelakkan dari sebuah kekacauan massal. Tapi apakah ini klimaksnya? Tentu saja tidak. Akan ada 'goro-goro' ketika keadaan bangsa ini tidak lagi normal, adanya kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan. Akan ada peristiwa-peristiwa untuk mengingatkan bangsa ini kembali ke jalan yang benar. Setelah 'goro-goro' itu, akan ada perang tanding antara Satria Pembela Kebenaran dengan musuhnya (sang pembela kejahatan) yang tentunya akan membawa korban. 

Jumat, 13 September 2013

Menggugat 350 Tahun Dijajah Belanda


Dalam sebuah perbincangan makan siang di K Junction Rundle Mall, di Pusat Kota Adelaide South Australia, seorang kawan asal Libya sangat antusias menanyakan perkembangan ummat Islam di Indonesia. Fokusnya adalah sejarah kolonialisme di negara-negara Islam. Bermula dari sejarah keberadaan Indonesia hingga membahas kolonialisme barat terhadap negara Asia Afrika pada abad ke 19 dan 20. Kawan ini bertanya, mengapa Indonesia begitu lama dijajah Belanda, yaitu 350 tahun, ketimbang Libya yang hanya kurang dari 50 tahun? Apakah sepanjang rentang waktu tersebut ummat Islam di Indonesia tidak memberikan resistensi atau ‘revolt atau fightings for freedom’ melawan Belanda? Sudah terjajah 350 tahun ditambah pendudukan Jepang 3,5 tahun, plus Inggris kurang lebih 3 tahun waktu Jaman Raffles. Dalam rentang waktu sepanjang itu, sejarah memang mencatat ratusan perlawanan menentang VOC, Netherland Indische, dan Dai Nippon, hingga setiap daerah di Indonesia memiliki pahlawan masing-masing. Setiap jalan di kota-kota dipenuhi nama-nama para pahlawan itu. Tetapi kawan dari Libya ini malah balik bertanya, “Selama itu kok gak berhasil ya?” Tetapi, benarkah kita itu dijajah Belanda selama 350 tahun?